Dibutuhkan Masyarakat, Pemanfaatan Teknologi AI Masih Rendah

Spread the love
Kasubdit Pengembangan Ekonomi Digital, Ditjen Aptika menyampaikan sambutan dalam acara Workshop Artificial Intelligence for Economic Growth and Social Good in The Digital Era di Downing Ballroom, Hotel Ashley, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/02/2020).

Jakarta, Kominfo – Kasubdit Pengembangan Ekonomi Digital, Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Luat Sihombing mengatakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sangat dibutuhkan oleh masyarakat namun masih jarang digunakan oleh masyarakat.

“Secara kasat mata belum terlihat tapi ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Luat menjawab pertanyaan wartawan usai acara Workshop Artificial Intelligence for Economic Growth and Social Good in The Digital Era di Downing Ballroom, Hotel Ashley, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/02/2020).

Luat mencontohkan beberapa sektor yang dapat memanfaatkan teknologi AI diantaranya sektor kesehatan, keuangan, dan pertanian.

Terkait adanya kekhawatiran masyarakat bahwa penerapan AI dapat meningkatkan jumlah pengangguran, Luat menjelaskan bahwa nantinya akan muncul jenis-jenis pekerjaan baru. “Akan ada pekerjaan-pekerjaan baru yang menggantikan pekerjaan lama,” jelasnya.

Luat menekankan arti penting pelaksanaan acara Workshop AI ini karena pemerintah membutuhkan masukan dari para pemangku kepentingan untuk merumuskan berbagai regulasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan AI di Indonesia.

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT memberikan paparan dalam acara Workshop Artificial Intelligence for Economic Growth and Social Good in The Digital Era di Downing Ballroom, Hotel Ashley, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/02/2020). (DPS)

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Michael Andreas Purwoadi dalam paparannya menjelaskan bahwa pemerintah sudah memulai langkah awal untuk merumuskan strategi pengembangan AI.

Pembahasan mengenai hal tersebut diinisiasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan membentuk tim yang terdiri dari berbagai perwakilan kementerian/lembaga, perguruan tinggi, sektor swasta, dan asosiasi.

Menurutnya terdapat 3 pilar penting yang menjadi bagian dari strategi tersebut yaitu riset dan pengembangan, tantangan bangsa, dan implementasi AI.

Terkait pilar tantangan bangsa, Michael menjelaskan salah satu hal penting adalah mengidentifikasi berbagai permasalahan bangsa yang dapat diselesaikan dengan pendekatan AI.

“Permasalahan negara yang bisa diselesaikan dengan menggunakan AI harus kita identifikasi,” ujarnya.

Senada dengan Luat, Michael juga meminta masyarakat tidak khawatir adanya peningkatan jumlah pengangguran karena AI akan lebih banyak diterapkan pada jenis-jenis pekerjaan yang sudah terlalu berat untuk dilakukan oleh manusia.

Michael mencontohkan tugas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dalam mengecek ribuan proposal anggaran yang masuk secara manual.

“Pengalaman kita di Pemda itu mereka bisa harus mengevaluasi lebih dari 1500 proposal dalam waktu 5 hari,” jelasnya.

Michael berharap bahwa penerapan AI akan mempermudah tugas-tugas tersebut sehingga pekerjaan lebih efisien dan menghasilkan output yang lebih baik. “Itu bisa kita bantu dengan AI,” katanya.

Workshop ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman bersama terkait perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dan penerapannya di Indonesia serta menghadirkan beberapa narasumber yang berasal dari Kementerian/Lembaga serta sektor swasta yang bergerak di bidang IT dan startup diantaranya BPPT, Google, Halodoc, dan Cisco.

Workshop ini dihadiri oleh peserta dari berbagai Kementerian/Lembaga diantaranya Kementerian Kominfo, BRTI, dan Kementerian/Lembaga lain yang terkait dengan TIK dan perdagangan, serta beberapa asosiasi dan pelaku usaha terutama yang bergerak di bidang teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *